'Wanita Listrik' Itu Bernama Tri Mumpuni
Kelebihan kapasitas listrik desa dapat dijual secara komersial ke PLN, yang keuntungannya untuk biaya sekolah dan subsidi kesehatan.
MOSAIC-INDONESIA.COM; Sederet prestasi sudah ditorehkan perempuan yang menginisiasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro di ratusan desa di Indonesia. Dengan tangan dinginnya, Tri Mumpuni merevolusi ratusan desa yang dahulu identik dengan kegelapan dan kemiskinan.
Bersama sang suami, Iskandar Budisaroso, ia berkeliling ke ratusan daerah di Tanah Air demi membangun pembangkit mikrohidro yang melibatkan unsur-unsur masyarakat agar mereka juga bisa menikmati terangnya listrik.
Bagaimana asal mula tokoh yang masuk dalam 22 Most Influential Muslim Scientists dalam daftar “The 500 Most Influential Muslims, Royal Islamic Strategic Studies Centre” ini mencetuskan PLTMH?
Dilansir dari Republika, perempuan berjuluk ‘Wanita Listrik’ itu mengatakan, perjalanannya dimulai dari keluhan seorang ibu yang ia temui. Meski sederhana, permintaan tersebut terbilang sulit untuk diwujudkan. "Ibu itu ingin agar suara adzan dari masjid bisa terdengar hingga ke rumahnya," ujar Tri saat itu.
Masalahnya, suara adzan itu tidak akan pernah sampai bila tak ada aliran listrik yang masuk ke desa sang ibu. Sejak itulah dia pun bertekad agar listrik bisa masuk ke semua wilayah di Indonesia. Terlebih, ia sering melihat desa-desa yang penuh dengan sumber air melimpah, namun tidak memiliki kabel distribusi listrik. Hal ini mengakibatkan masyarakat di sana tidak bisa melakukan aktivitas seperti kita yang mungkin dengan mudah menikmati listrik, terutama untuk penerangan di malam hari.
Kepada DW, Tri Mumpuni mengatakan, banyak desa yang secara geografis cocok untuk PLTMH, seperti di desa Cinta Mekar yang terletak di Subang, Jawa Barat.
Melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA),dia setidaknya 65 PLTMH di desa-desa terpencil. Hingga April 2020, tercatat masih ada 433 dari 75 ribu desa di Indonesia yang belum teraliri listrik. Sebagian besar desa-desa itu terletak di Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.
PLTMH jalan berdayakan ekonomi rakyat
Fokus wirausaha sosial yang diusung Tri Mumpuni bukan sekadar menyediakan penerangan untuk kebutuhan lokal. PLTMH yang dikembangkannya merupakan pembangkit listrik berbasis masyarakat, di mana 50 persen hasilnya dimiliki swasta atau investor. Separuhnya lagi dimiliki masyarakat, yang dikelola lewat koperasi.
Salah satunya seperti koperasi di PLTMH Cinta Mekar, yang terletak di kecamatan Serang Panjang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Ketika PLTMH tersebut dibangun pada 2002, sebagian kelebihan kapasitas dapat dijual secara komersial ke PLN, yang keuntungannya dialirkan untuk biaya sekolah anak-anak desa, subsidi kesehatan, atau modal untuk usaha masyarakat desa.
Sejak 30 tahun aktif berkecimpung membangun desa bersama suaminya Iskandar Budisaroso, Tri Mumpuni beranggapan bahwa warga perlu dilibatkan dan harus memetik untung dari hadirnya teknologi. "Bagaimana membawa energi bersih ke desa, dan desa itu bisa menghasilkan uang dari memanfaatkan sumber daya lokal yang kita bangun. Kita datangkan teknologi dan finansial tetapi ini tetap dimiliki rakyat,” tutur Tri Mumpuni kepada DW Indonesia.
Lihat postingan ini di Instagram
Suatu waktu bila PLTMH tidak lagi beroperasi, warga masih bisa meraih manfaat lewat kehadiran koperasi. Misalnya saja, PLTMH Cinta Mekar yang mandek sejak 2017, karena murahnya harga listrik yang dibeli PLN. "Koperasi Mekarsari masih berjalan karena ada modal usaha 50 juta. Itu masih beredar alhamdulillah anggotanya yang masih aktif 100 orang lancar pinjamannya,” kata Yuyun Yunengsih, Ketua Koperasi Mikro Hidro Mekarsari.
Namun, warga tertolong tak melulu lewat koperasi. Di Desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur Nusa Tenggara Timur misalnya. Setelah PLTMH dibangun tahun 2011, warga memanfaatkan listrik untuk menyedot air dari lembah. Kaum perempuan pedesaan yang biasanya harus menghabiskan waktu berjalan kami selama tujuh jam untuk mengangkat air, kini dapat fokus menenun kain yang bisa dijual untuk menambah pendapatan keluarga.
Mengkader Patriot Desa
Menurut Direktur IBEKA tersebut, desa sebenarnya punya potensi dan menjadi kunci untuk membangun Indonesia. "Jadi Indonesia itu bisa hebat dan kuat kalau desa itu betul- betul dibangun dengan cara yang benar. Desa itu punya sumber daya alam, desa itu punya semuanya...Hanya satu, kita masih kekurangan manusia yang berkualitas yang mau tinggal di desa dan membangun desa itu dengan cara yang benar. Itu kuncinya di situ,” kata lulusan jurusan Sosial Ekonomi dari Institut Pertanian Bogor tersebut.
Meski demikian, Tri menyayangkan, potensi desa-desa di Indonesia belum sepenuhnya menjadi fokus pembangunan, sehingga kerap kali desa ditinggalkan oleh generasi mudanya. Penyebabnya adalah pola pendidikan yang mengesampingkan konteks dan potensi pedesaan. "Yang terjadi adalah sistem pendidikan kita mengajarkan anak-anak desa ya kalau sudah pintar kamu tinggalkan desa karena desa tidak menjanjikan apa-apa,” kata dia.
Itulah sebabnya, bersama pemerintah Provinsi Jawa Barat, ia mengembangkan program Patriot Desa untuk melatih generasi muda yang mau terjun membangun desa. Salah satu aktivitasnya dinamai One Village One Company (OVOC), yang bertujuan memaksimalkan potensi desa dengan merintis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Kenapa desa tetap miskin?
Terciptanya usaha swadaya di tengah masyarakat desa, menurut Tri Mumpuni menjadi penting karena selama ini, pembangunan di desa cenderung hanya melibatkan investor, sehingga menyebabkan desa terjerat dalam kemiskinan.
"Banyak sekali regulasi peraturan yang dibuat pemerintah itu ternyata menjurus, membawa atau lead kepada terjadinya kemiskinan. Contoh yang paling sederhana, pemerintah di daerah merasa bangga dan senang bisa menghadirkan seorang investor gitu ya, tapi justru kerja investor ini yang dia membawa uang. Dia punya teknologi, dia punya manajemen yang bagus tapi ternyata dia hanya perlu resources nya saja. Dia tidak melibatkan masyarakatnya. Disini lah muncul kemiskinan sebab kemiskinan itu simtom, yang terjadi sebetulnya akar masalah dari kemiskinan adalah masyarakat itu dipisahkan dari sumber daya lokal di mana mereka ada,” kata perempuan yang sudah aktif tmembangun PLTMH sejak tahun 1997 tersebut.
Ia juga kerap merasa frustasi, sebab meski sudah membangun PLTMH di banyak tempat, Tri Mumpuni merasa upaya yang ia lakukan belum membawa perubahan yang maksimal.
"Waktu saya hanya berkunjung saja misalnya ke NTT, terus saya datang ke desa-desa, tiba-tiba klik melihat anak kecil. Lho perasaan 30 tahun lalu saya datang ke NTT mengerjakan hal yang sama, mengasih air bersih untuk keluarga sehingga si ibu-ibu tidak tersiksa naik turun dengan kondisi yang sangat curam gitu. Terus anak kecilnya juga tidak melakukan hal itu. Ternyata masih ada juga daerah-daerah yang justru saya lihat persis 30 tahun lalu. Berarti kan ada yang tidak beres,” kata Tri Mumpuni menjelaskan.
Meski demikian, Tri Mumpuni tak lantas patah arang. Selain terus aktif mengembangkan energi terbarukan di luar PLTMH, ia juga tetap berharap perubahan tetap dapat terjadi di badan pemerintahan, khususnya yang membawahi bidang kelistrikan negara. "Saya menunggu ada direktur baru yang punya komitmen ingin membangun bangsa ini dengan memajukan energi terbarukan, sekaligus ingin membuat desa makmur, karena desa bisa punya income dari hasil energi yang dibangkitkan oleh mikro hidro di mana desa-desa itu berada.”