Saat Energi Bersih Mengalahkan Batu Bara

Sumber energi terbarukan memasok 34,3% listrik dunia sementara batu bara turun menjadi 33,1%,

Oct 30, 2025 - 22:10
Jan 3, 2026 - 22:11
Saat Energi Bersih Mengalahkan Batu Bara
Panel Surya (Pixabay)

MOSAIC-INDONESIA.COM, JAKARTA — Selain menjadi momentum pecahnya rekor pesawat bertenaga surya yang terbang di atas ketinggian 31 ribu kaki, tahun 2025 mengukir sejarah manis dalam pencapaian energi bersih secara global. Sebuah lembaga think thank energi global, Ember, melaporkan, untuk pertamakali, energi hijau berhasil unggul atas energi fosil seperti batu bara.

Dikutip dari laman zmescience, energi dengan emisi nol yang didominasi tenaga surya dan angin berhasil menghasilkan lebih banyak listrik di seluruh dunia ketimbang batu bara.

“Secara keseluruhan — kita berbicara secara global — energi terbarukan melampaui batu bara,” kata Malgorzata Wiatros-Motyka, analis listrik senior di Ember, dalam sebuah wawancara dengan Grist. “Dan saya memperkirakan ini akan bertahan.”

Capaian ini menjadi  tonggak sejarah yang telah dinantikan selama beberapa dekade. Sumber energi terbarukan memasok 34,3% listrik dunia antara Januari dan Juni 2025, sementara batu bara turun menjadi 33,1%, menurut temuan Ember. Bagi sistem energi dunia yang telah bergantung pada bahan bakar fosil sejak Revolusi Industri,  prestasi ini menjadi  sesuatu yang revolusioner.

Titik balik

Ember menyebut raihan ini sebagai “titik balik yang penting.” Pertumbuhan energi surya dan angin tidak hanya memenuhi peningkatan permintaan listrik global—tetapi juga melebihi. Hal ini pun menyebabkan sedikit penurunan penggunaan bahan bakar fosil untuk pertama kalinya.

Tenaga surya melakukan sebagian besar pekerjaan berat, menyediakan 83% dari peningkatan permintaan listrik, dan kini telah menjadi sumber listrik baru terbesar di dunia selama tiga tahun berturut-turut.“Momen ini menandai awal dari pergeseran di mana energi bersih mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan,” kata Wiatros-Motyka kepada BBC.

Sebagian penyebab meningkatnya penggunaan energi bersih dinilai terjadi berkat penurunan harga tenaga surya yang drastis. Sejak 1975, biaya tenaga surya telah turun sebesar 99,9%. Banyak negara yang paling cepat mengadopsinya berada di negara-negara Selatan. Sementara itu, hampir 58% dari pembangkit tenaga surya global sekarang berasal dari negara-negara berpenghasilan rendah.

Pakistan mengimpor panel surya pada 2024 untuk menghasilkan 17 gigawatt tenaga surya—dua kali lipat dari tahun sebelumnya, dan kira-kira sepertiga dari total kapasitas listrik negara tersebut. Di seluruh Afrika, impor energi surya meningkat 60%, dipimpin oleh Afrika Selatan, Nigeria, dan Aljazair.

Di China, pertumbuhan energi bersih begitu pesat meski terdengar  tidak masuk akal. Negara itu menambahkan kapasitas energi surya dan angin lebih banyak daripada gabungan seluruh dunia, menurut temuan Ember. China bahkan sukses menurunkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil sebesar 2%. Negeri Tirai Bambu ini pun menyumbang 55% dari pertumbuhan energi surya global.

Transformasi tersebut membuahkan hasil dalam lebih dari satu cara. Pergeseran menuju energi terbarukan memberi negara-negara kemandirian yang lebih besar dari bahan bakar impor. “Ada lebih banyak investasi dalam infrastruktur yang memfasilitasi pertumbuhan bersih [di negara-negara berkembang] daripada di banyak negara maju,” kata Wiatros-Motyka kepada NPR. “Ini mungkin tentang beberapa negara yang melewatkan peluang, dan mungkin mereka tidak menyadarinya, tetapi itulah kenyataannya,"tambah dia.

Pesatnya kemajuan negara-negara berkembang dalam energi terbarukan berbanding terbalik dengan negara-negara maju. Di Amerika Serikat, pembangkit listrik tenaga batu bara meningkat 17% pada awal tahun 2025. Sementara, Badan Energi Internasional (IEA) telah mengurangi separuh perkiraan pertumbuhan energi terbarukan AS dekade ini, dari 500 gigawatt menjadi 250 gigawatt.

Kongres memberikan suara pada Juli 2025 untuk menghapus secara bertahap kredit pajak yang telah lama berlaku untuk energi angin dan surya. Pemerintahan Donald Trump bahkan telah berupaya untuk menghentikan atau menunda puluhan proyek energi terbarukan. Meski Pemerintahan Trump memiliki kebencian yang hampir mendalam terhadap turbin angin dan panel surya, mereka tidak dapat berbuat banyak untuk menghentikan hal yang tak terhindarkan.

“Mereka dapat memperlambatnya; mereka dapat menyebabkan kerusakan yang jauh lebih besar daripada yang saya kira,” kata Robert Brecha, penasihat senior di Climate Analytics. “Tetapi mereka tidak dapat menghentikannya.”

Di Eropa, cuaca buruk, bukan politik, yang meredupkan prospek energi bersih. Lemahnya angin yang terjadi selama berbulan-bulan dan kekeringan mengurangi produksi energi terbarukan di benua biru. Hal tersebut membuat peningkatan 14% dalam pembangkit listrik tenaga gas.

Meski demikian, kisah globalnya jelas: dominasi batu bara akan berakhir. IEA masih mencantumkan batu bara sebagai sumber energi tunggal terbesar, tetapi pangsa pasarnya menyusut dengan cepat.

Dominasi China

China adalah pusat pertumbuhan energi terbarukan. China memproduksi sebagian besar panel surya dunia yang bahkan menyumbang sekitar 80% dari produksi global. Pada paruh pertama tahun 2023, ekspor modul surya China saja mencapai 114 GW, meningkat 34% dari tahun sebelumnya.

Seperti yang dikatakan Daniel Cohan, seorang insinyur sipil dan lingkungan di Universitas Rice, kepada NPR, “China mengambil teknologi yang awalnya dikembangkan di Amerika Serikat di Bell Labs pada tahun 1950-an dan menemukan cara untuk meningkatkannya.”

Hasilnya adalah kerajaan manufaktur teknologi bersih, yang meluas ke vertikal lain selain energi surya. Pada Agustus 2025 saja, ekspor teknologi bersih China mencapai rekor 20 miliar dolar AS dengan penjualan kendaraan listrik dan baterai yang melonjak.

Sementara itu, AS menghadapi jenis masalah baru yang hampir tidak diantisipasi siapa pun sepuluh tahun yang lalu: data yang boros energi.

“Ini benar-benar menjadi titik balik bagi Amerika Serikat,” kata Cohan. “Dengan pertumbuhan pusat data, AI dan kripto, serta pertumbuhan industri dan pendingin udara lainnya, kita mulai melihat permintaan listrik tumbuh 3% per tahun, alih-alih stagnan atau 1%.”