Krisis Iklim dan Potensi Perang Nuklir, Jam Kiamat 85 Detik Menuju Tengah Malam

Para pemimpin dunia gagal merespons peringatan yang disampaikan setahun sebelumnya.

Jan 28, 2026 - 21:27
Krisis Iklim dan Potensi Perang Nuklir, Jam Kiamat 85 Detik Menuju Tengah Malam

MOSAIC-INDONESIA.COM,WASHINGTON — Bulletin of the Atomic Scientists pada Senin (27/1/2026) menetapkan Jam Kiamat (Doomsday Clock) berada di posisi 85 detik menuju tengah malam. Ini menjadi jarak terdekat dengan bencana global sepanjang sejarah 'Jam Kiamat' sejak pertama kali diperkenalkan pada 1947.

Dewan Sains dan Keamanan (Science and Security Board/SASB) menyerukan langkah mendesak untuk membatasi persenjataan nuklir, menyusun pedoman internasional terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI), serta membangun kerja sama multilateral guna menghadapi ancaman biologis global.

Presiden dan CEO Bulletin of the Atomic Scientists, Alexandra Bell, mengatakan pesan Jam Kiamat kini semakin jelas. Menurut dia, risiko bencana global terus meningkat, sementara kerja sama internasional justru melemah.

“Risiko bencana semakin besar, kerja sama semakin menurun, dan waktu kita semakin sempit. Perubahan sangat diperlukan dan masih mungkin dilakukan, tetapi komunitas global harus menuntut tindakan cepat dari para pemimpinnya,” ujar Bell.

Penentuan waktu Jam Kiamat dilakukan setiap tahun oleh SASB dengan berkonsultasi bersama Dewan Penasihat yang terdiri atas delapan peraih Nobel. Faktor utama yang memengaruhi penetapan tahun 2026 antara lain meningkatnya ancaman senjata nuklir, pesatnya perkembangan teknologi disruptif seperti AI, berbagai risiko keamanan biologis, serta krisis iklim yang terus berlanjut. Sebelumnya, pada Januari 2025, Jam Kiamat berada di posisi 89 detik menuju tengah malam.

Ketua SASB, Daniel Holz, yang juga profesor fisika di Universitas Chicago, memperingatkan bahwa meningkatnya risiko nuklir, perubahan iklim, teknologi disruptif, dan ancaman biologis diperparah oleh menguatnya nasionalisme dan pemerintahan otoriter di sejumlah negara.

Menurut Holz, tantangan global saat ini menuntut kepercayaan dan kerja sama lintas negara. Dunia yang semakin terpecah dalam pola “kami versus mereka”, kata dia, justru membuat seluruh umat manusia semakin rentan.

Kekhawatiran serupa disampaikan peraih Nobel Perdamaian 2021, Maria Ressa. Ia menilai krisis informasi global turut memperburuk berbagai ancaman yang dihadapi dunia. Menurutnya, tanpa fakta yang disepakati bersama, kepercayaan dan kerja sama internasional akan sulit terwujud.

Dalam pernyataannya, Bulletin of the Atomic Scientists menilai para pemimpin dunia gagal merespons peringatan yang disampaikan setahun sebelumnya. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China dinilai semakin agresif dan kompetitif, sehingga meruntuhkan fondasi kerja sama internasional yang diperlukan untuk menekan risiko perang nuklir, krisis iklim, penyalahgunaan bioteknologi, dan ancaman kecerdasan buatan.

Meski demikian, lembaga tersebut menegaskan masih ada peluang untuk menjauhkan dunia dari jurang bencana. Beberapa langkah yang disoroti antara lain dimulainya kembali dialog pembatasan senjata nuklir, penguatan kerja sama internasional terkait AI dan biosekuriti, serta percepatan transisi energi bersih guna menekan dampak perubahan iklim.

Bulletin of the Atomic Scientists didirikan pada 1945 oleh Albert Einstein, J. Robert Oppenheimer, dan para ilmuwan Universitas Chicago yang terlibat dalam Proyek Manhattan. Jam Kiamat diciptakan dua tahun kemudian sebagai simbol ancaman buatan manusia terhadap kelangsungan hidup umat manusia sekaligus pengingat bahwa masih ada waktu untuk bertindak.