Riset: Muslim Indonesia Dukung Penggunaan Ziswaf untuk Transisi Energi
Mayoritas responden Muslim Indonesia dengan angka hingga 79 persen mendukung gagasan ini.
MOSAIC-INDONESIA.COM,JAKARTA -- Studi Program Komunikasi Perubahan Iklim Yale (YPCCC) meneliti tentang bagaimana pandangan umat Islam Indonesia perihal gagasan zakat, infak, sedekah dan wakaf (Ziswaf) digunakan untuk mendukung transisi bahan bakar fosil menjadi energi terbarukan. Riset yang dirilis pada November 2025 tersebut itu menunjukkan hasil yang mengejutkan.
Mayoritas responden Muslim Indonesia dengan angka hingga 79 persen mendukung gagasan ini. Sebanyak 48% yang sangat mendukung dan 31% lainnya agak mendukung. Di sisi lain, hanya 19% responden yang menolak gagasan tersebut, ada 12% agak menolak dan 7% sangat menolak.
Studi kualitatif bertajuk “Perubahan Iklim dan Energi pada Masyarakat Indonesia" tersebut melibatkan 2.000 responden berusia 18 tahun ke atas dari 15 Juni-17 Juli 2025. Studi ini pun membuktikan jika sebagian besar Muslim Indonesia mendukung penggunaan filantropi Islam untuk mendukung transisi nasional menuju energi terbarukan.
“Survei ini menyoroti potensi besar filantropi Islam sebagai kekuatan pendorong perubahan, sejalan dengan nilai-nilai kebaikan dan keberlanjutan yang diyakini oleh masyarakat,” kata Longgena Ginting, Direktur Purpose Indonesia seperti dikutip dari Katadata.
Dalam hasil studinya, YPCC menjelaskan, sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, dengan sekitar 83% penduduknya adalah Muslim, filantropi di Indonesia memainkan peran penting dalam kesejahteraan sosial dan masyarakat melalui praktik-praktik seperti Ziswaf.
Indonesia memprioritaskan pengembangan sumber energi bersih dalam kebijakan nasional, yang pada akhirnya akan menempatkan negara ini pada jalur menuju dekarbonisasi. Meskipun Indonesia merupakan salah satu produsen batubara terbesar di dunia dan pemasok gas terbesar di Asia Tenggara, negara ini memiliki rencana ambisius untuk menjadi salah satu produsen biofuel terbesar di dunia.
RI juga hendak mengurangi emisi sekitar 32% secara mandiri atau 43% dengan dukungan internasional, melampaui target yang ditetapkan oleh Perjanjian Iklim Paris Dalam perhelatan G20 pada November 2022, Indonesia menandatangani Kemitraan Transisi Energi yang Adil (JETP) dengan pemberi pinjaman internasional dan negara-negara G7 untuk membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Pendanaan sebesar 20 miliar dolar AS sedang dicairkan dan diharapkan dapat mempercepat penghentian operasional pembangkit listrik tenaga batubara
Lihat postingan ini di Instagram
Indonesia memiliki sumber daya fotovoltaik surya dan angin yang signifikan yang dapat digunakan dalam skala besar. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia telah menekankan kemandirian energi dan pengembangan teknologi energi terbarukan. Pemerintahan baru ini telah membuat janji-janji ambisius, termasuk rencana untuk menghapus semua pembangkit listrik tenaga batu bara dan bahan bakar fosil dalam 15 tahun dan mengembangkan kapasitas energi terbarukan sebesar 75 gigawatt.
Indonesia telah menegaskan kembali komitmennya untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060, meskipun para ahli memperingatkan bahwa tanpa perubahan kebijakan konkret dan konsolidasi kelembagaan, negara ini berisiko mengalami kemunduran dalam transisi energinya (Suharsono & Nugroho, 2025). Strategi nasional yang efektif di Indonesia harus mempertimbangkan keyakinan dan sikap masyarakat tentang perubahan iklim, persepsi risiko, dan respons lain terhadap lingkungan (misalnya, nilai-nilai, perilaku).
Masyarakat di Indonesia akan memainkan peran penting dalam keberhasilan atau kegagalan strategi ini melalui tindakan mereka sebagai warga negara, konsumen, dan komunitas. Karakter keagamaan Indonesia yang mendalam secara signifikan membentuk respons dan perilaku publik ini. Dengan 87% penduduk menganut Islam, 11% Kristen, dan sisanya menganut agama lain atau tidak beragama (Stirling, 2024), kepercayaan agama memiliki pengaruh besar terhadap cara hidup masyarakat Indonesia (fiftyfive5 dan Purpose, 2021).
Pentingnya keyakinan sangat menonjol, mengingat sebanyak 89% masyarakat Indonesia mengatakan agama sangat atau amat penting dalam hidup mereka, dan 38% melaporkan keyakinan agama yang kuat – meskipun hal ini cenderung lebih umum di kalangan generasi yang lebih tua daripada generasi muda (fiftyfive5 dan Purpose, 2021). Aktor keagamaan sendiri memiliki warisan lingkungan yang beragam. Di satu sisi, beberapa masjid telah beralih ke energi surya. Di sisi lain, kelompok-kelompok Islam tertentu masih berinvestasi di tambang batu bara.
"Oleh karena itu, memahami bagaimana kepercayaan agama beririsan dengan sikap terhadap lingkungan dan persepsi perubahan iklim sangat penting untuk mengembangkan strategi dan kebijakan komunikasi yang efektif. Memahami bagaimana masyarakat Indonesia menanggapi perubahan iklim dan masalah lingkungan – termasuk apa yang mereka ketahui, yakini, dan dukung, serta apa yang mereka salah pahami,"ungkap YPCCC dalam risetnya.