Energi Surya Jaga Kumandang Adzan di Masjid Al Khoiriyah

Dalam sepekan, setidaknya ada empat-lima kali pemadaman listrik di kampung tersebut.

Dec 16, 2025 - 21:46
Energi Surya Jaga Kumandang Adzan di Masjid Al Khoiriyah

MOSAIC-INDONESIA.COM, JAKARTA --  Hampir setahun program Sedekah Energi menerangi  Masjid Al Khoiriyah,  Dusun Curug, Desa Karyasari, Garut, Jawa Barat.  Pengasuh pesantren Ustadz M Syambas Assyafiie mengungkapkan, panel surya yang menerangi masjid dengan energi matahari menjadi pembeda dari masjid-masjid lainnya di sekitar Garut. Terlebih, saat wilayah desa mengalami mati listrik.

Menurut pengasuh yang akrab disapa Ustadz Aceng ini,  byarpet dikampungnya memang cukup sering terjadi. Dalam sepekan, setidaknya ada empat-lima kali pemadaman listrik di dusun tersebut.  “Kalau adzan pas mati lampu, cuma Masjid Al Khoiriyah yang kedengeran,”kata Ustadz Aceng saat berbincang dengan redaksi MOSAIC.

Selain menghidupkan masjid, energi bersih tersebut dinikmati oleh segenap santri di Pondok Pesantren Mambaul Ulum yang diasuh Ustadz Aceng. Dia mengatakan, kamar santri yang mukim di pesantren tersebut bisa ikut menyala dengan mengambil listrik dari panel surya. Menurut dia,  sebanyak 20 santri mukim di pesantren yang diasuhnya tak perlu lagi membayar listrik. Ustadz Aceng mengungkapkan, tagihan yang tertera di rekening PLN pesantren dan masjid kini hampir nol rupiah.

Tidak hanya itu, pesantren salafiyah yang memiliki total 120 santri ini mengatakan, ‘listrik bersih’ yang berasal dari program Sedekah Energi Muslim Shared Actions on Climate Impact (MOSAIC) tersebut juga menghidupi pompa  air yang digunakan untuk mengaliri hidroponik.  Karena itu, PLTS yang menghasilkan 5.750 WP ini dinilai mampu mendukung kebutuhan listrik, tidak hanya untuk kegiatan ibadah dan sosial yang ada di Masjid dan Pondok Pesantren, tetapi juga untuk program pemberdayaan.

Menurut Ustadz Aceng, ada dua sampai lima santri yang bekerja paruh waktu di hidroponik yang dikelola oleh Rumah Amal Salman tersebut. Hasil dari hidroponik berupa sayuran dan ikan nila. “Hidroponik itu ada 14 lobang kalau hasil dari ikan, per kolam bisa tujuh kuintal,”kata dia.

Hasil dari hidroponik ini kemudian dijual ke desa melalui program penanggulangan stunting. Menurut dia, pihak pesantren secara resmi tidak terlibat dalam program pemberdayaan tersebut. “Kita cuma nyediakan tempat saja,”tambah dia.

Subsidi listrik untuk pompa air budidaya ikan nila dan pertanian hidroponik. Budidaya ini merupakan bagian dari program pengentasan stunting yang dikelola oleh BumDes. Hingga saat ini lebih dari 30 orang warga, santri dan perangkat desa yang berada di sekitar masjid telah mendapatkan pelatihan, termasuk 9 orang perempuan.

Pelatihan juga dilakukan kepada lembaga dan komunitas desa seperti Ibu-Ibu PKK, Posyandu, Komunitas anak muda Patkuy, dan kelompok tani. Mereka turut serta dan antusias dalam mempelajari cara pemanfaatan PLTS atap dan bagaimana dapat terlibat dalam perawatan dan pengembangan PLTS ini.